Peradaban manusia pada abad 21 ini dibilang sangat maju dibandingkan pada abad sebelumnya, dimana peradaban umat manusia mulai mengenal alat bantu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka makhluk yang dikaruniai akal oleh Sang Maha Pencipta ini mulai berfikir untuk dapat hidup serba berkecukupan, dengan segala usaha dan kerjakerasnya tercapailah apa yang diimpikan. Sampai sekarang peradaban manusia telah mencapai titik kuliminasi dan sangat dimungkinkan abad selanjutnya akan mencapai titik yang lebih tinggi.
Namun, di era globalisasi dan serba modern ini bisa menjadi pembantu primer kita dalam mencapai semua keinginan atau sebaliknya menjadi mesin penghancur yang tidak bisa dihentikan. Oleh karena itu kita butuh kekuatan untuk sebuah filterisasi peradaban ini.
Dalam hal ini manusia berperan ganda, yaitu sebagai subyek sekaligus obyek. Sebagai subyek karena manusialah yang bertanggung jawab untuk berkreatifitas memberi warna baru di kehidupan ini sebagai obyek karena manusialah yang menjadi sasaran dan penikmat sajian spesial yang dihidangkan oleh manusia lainya, adapun klasifikasi manusia menurut para ahli mempunyai perspektif yang berbeda.
Menurut Aristoteles manusia berbeda dari makhluk – makhluk lainya mempunyai form yang khusus. Ia mempunyai fungsi realisasi diri ( dinamakan entelechi ) yang menyebabkan manusia bisa berkembang ke arah yang dikehendakinya sendiri ( Sarwono, 1986 ). Walaupun demikian, Aristoteles tetap beranggapan bahwa hubungan badan ( metter ) dan jiwa ( form ) sangat erat. Keduanya saling mempengaruhi dan berkembang bersama – sama. Atas dasar anggapan ini Aristoteles membagi jiwa manusia, yang dikaitkan dengan perkembangan fisiknya, ke dalam tiga tahap yang masing – masing berlangsung dalam kurun usia 7 tahunan. Tahap – tahap perkembangan jiwa menurut Aristoteles adalah sebagai berikut :
- 0 – 7 Tahun : Masa kanak – kanak ( infancy )
- 7 – 14 Tahun : Masa anak – anak ( boyhood )
- 14 – 21 Tahun : Masa dewasa muda ( young manhood ) ( Muss, 1968 )
Akan tetapi pendapat Aristoteles ini tidak didukung oleh filsuf Prancis J. J. Rousseau yang menganut paham Romantic Naturalism yang menyatakan bahwa yang tepenting dalam perkembangan jiwa manusia adalah perkembangan perasaanya. Perasaan ini harus dibiarkan berkembang bebas sesuai dengan pembawaan alam ( natural development ) yang berbeda dengan satu individu ke individu yang lain ( individualism ).
Sejalan dengan pandanganya tentang natural development, Rousseau menganalogikan perkembangan idividu dengan evolusi makhluk ( species ) manusia. Ia menyatakan bahwa perkembagan individu ( ontogeny ) merupakan ringkasan ( recapitulates ) perkembangan makhluk ( phylogeny ). Empat tahapan yang dimaksud oleh Rousseau adalah sebagai berikut :
- Usia 0 – 4 atau 5 tahun : Masa kanak – kanak ( infancy ). Tahap ini didomnasi oleh perasaan senang ( pleasure ) dan tidak senang ( pain ) dan menggambarkan tahap evolusi dimana manusia masih sama dengan binatang.
- Usia 5 – 12 tahun : Masa bandel ( savage stage ). Tahap ini mencerminkan era manusia liar, manusia pengembara dalam evolusi manusia. Perasaan – perasaan yang dominan dalam periode ini adalah ingin main – main, lari – lari, loncat – loncat dan sebagainya, yang pada pokoknya untuk melatih ketajaman indra dan keterampilan anggota – anggota tubuh. Kemampuan akal masih sangat kurang sehingga dikatakan oleh Rousseau bahwa anak pada kurun usia ini jangan dulu diberi pendidikan formal seperti berhitung dan membaca serta menulis.
- Usia 12 – 15 tahun : Bangkitnya akal ( ratio ), nalar ( reason ), dan kesadaran diri ( self consciousness ). Dalam masa ini terdapat energi dan kekuatan fisik yang luar biasa serta tumbuh keinginan tahu dan keinginan coba – coba.
- Usia 15 – 20 tahun. Dinamakan masa kesempurnaan remaja ( adolescence proper ) dan merupakan puncak perkembangan emosi. Dalam tahap ini terjadi perubahan dari kecenderungan mementingkan diri sendiri kepada kecenderungan mementingkan kepentingan orang lain dan kecenderungan memperhatikan harga diri. Gejala lain yang timbul dalam tahap ini adalah bangkitnya dorongan seks. ( Muss, 1968 )
Teori Rousseau yang merekapitulasi perkembangan evolusi umat manusia pada perkembangan individu manusia mempunyai pengikut di awal abad ke – 20 ini, yaitu G.S Hall ( 1844 – 1924 ) seorang sarjana Psikologi Amerika Serikat yang dianggap sebagai Bapak Psikologi Remaja. Hall juga membagi perkembangan manusia dalam empat tahap yang mencerminkan tahap – tahap perkembangan umat manusia sebagai berikut :
- Masa kanak – kanak ( infancy ) : 0 – 4 tahun, mencerminkan tahap hewan dari evolusi umat manusia.
- Masa anak – anak ( childhood ) : 4 – 8 tahun, mencerminkan masa manusia liar, manusia yang masih menggantungkan hidupnya pada berburu atau mencari ikan.
- Masa muda ( youth atau preadolescence ) : 8 – 12 tahun, mencerminkan era manusia sudah agak mengenal kebudayaan, tetapi masih tetap setengah liar ( semi – barbarian )
- Masa remaja ( adolescence ) : 12 – 25 tahun, yaitu masa topan badai ( strum and drang ), yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai – nilai. ( Sarwono, 2012 : 26 )
Setelah kita analisis perilaku generasi manusia dengan sistem evolusi yang menitikberatkan pada keadaan Psikologinya maka, menurut penulis yang menarik untuk dikaji dalam dunia pendidikan adalah masa remaja, karena dalam masa ini merupakan masa topan badai bagi manusia muda untuk membentuk karakter dan menemukan jati dirinya, kemudian keadaan emosional yang labil juga menjadi salah satu alasan.
Dewasa ini banyak terjadi kasus – kasus kriminalitas yang diperankan oleh remaja, dari mulai kasus pencurian, tawuran, pemerkosaan sampai pembunuhan. Bahkan masih banyak lagi pelanggaran hukum dan nilai – nilai di masyarakat yang sudah tidak diindahkan lagi oleh remaja salah satunya pergaulan antara laki – laki dan perempuan sudah dianggap tidak ada batasan lagi yang berefek pada kehamilan diluar nikah. Kemudian penulis sedikit mengungkapkan tempat yang menjadi penelitian, yaitu Desa Ujunggebang Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon. Dimana desa ini merupakan desa yang masyarakatnya masih kurang dalam minat untuk pendidikan tetapi cenderung pada dunia kerja, walaupun melanjutkan pendidikan di sekolah tetapi pola pikirnya masih tetap mencari kerja.
Adapun jika kita lihat perkembangan pendidikan di Desa Ujunggebang masih jauh dari apa yang diharapkan. Alasanya karena tidak sedikit anak tingkat SD yang tidak melanjutkan ke SLTP padahal sudah banyak sekolah yang menawarkan akan gratisnya biaya sekolah bahkan ada yang memberikan berbagai fasilitas, seperti pakaian seragam dan jasa angkutan, begitupun anak SLTP yang melanjutkan ke jenjang SLTA, tetapi di fase ini tidak terlalu banyak anak yang putus sekolah, namun masih ada yang tidak berminat bahkan dipaksa untuk tidak berminat. Mereka malah mencari kerja karena tuntutan dari keluarganya bahkan tidak sedikit remaja putri yang menjadi korban mal – prakter para sponsor TKW dengan menambahkan umurnya sampai standar yang telah ditentukan. Tapi ironis sekali jika kita lihat anak SLTA yang melanjutkan pendidikanya ke Perguruan Tinggi, karena dipikiran mereka kuliah itu hanya untuk orang kaya.
Jika dalam masalah pendidkan sekolah saja sudah seperti itu, maka bagaimana minat mereka terhadap pendalaman ilmu agama ?. dari data yang ada, Musholla di Desa Ujunggebang tercatat ada 17 Musholla. Dari hasil survei peneliti hanya beberapa musholla yang memiliki santri diatas 10 anak dikarenakan tenaga pengajar ( ustadz ) di musholla tersebut terbatas, walaupun tidak sedikit yang belajar di Pondok Pesantren bahkan yang sudah menyandang sebagai alumni sebuah Pondok Pesantren tertentupun tidak sedikit, namun gairah tarbiyah mereka masih perlu distimulus lagi. Hal ini juga terdapat pada santri di musholla – musholla yang sudah tidak berminat untuk datang ke musholla sehingga berakibat pada berhenti mengaji. Ini terjadi pada anak usia 13 tahunan ( SLTP Kelas 1, jika lanjut ).
Melihat fakta pelanggaran nilai dan hukum dengan didukung oleh serangkaian degradasi pendidikan dan moralitas remaja di Desa Ujunggebang Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon ini maka perlu kita teliti faktor penyebab dari semua itu. Lalu dalam alam pikiran penulis tumbuh sebuah pertanyaan, dimanakah peran Pendidikan Agama Islam ?
Sikap keagamaan merupakan perwujudan dari pengalaman dan penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan batin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya. Sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi ( pengetahuan ), afeksi ( penghayatan ) dan konasi ( perilaku ) terhadap agama pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada seseorang. Sikap keagamaan sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan berupa fithrah beragama, dimana manusia punya naluri untuk hidup beragama, dan faktor luar diri individu, berupa bimbingan dan pengembangan hidup beragama dari lingkungannya. Kedua faktor tersebut berefek pada lahirnya pengaruh psikologis pada manusia berupa rasa takut, rasa ketergantungan, rasa bersalah, dan sebagainya yang menyebabkan lahirnya keyakinan pada manusia. Selanjutnya dari keyakinan tersebut, lahirlah pola tingkah laku untuk taat pada norma dan pranata keagamaan dan bahkan menciptakan norma dan pranata keagamaan tertentu.
Dalam Al – Qur’an surat Al – Qalam ayat 4 menerangkan tentang konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rosul, yang diutus oleh Allah sebagai Rahmat bagi semesta alam dengan misi menyempurnakan akhlak atau tingkah laku atau perbuatan manusia yang hidup di zaman tersebut ( Jahiliyah ) dan berlaku sampai sekarang .
وَاِنَّكَ لَعَلَّي خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Artinya : “ Sesungguhnya engkau ( Muhammad ) berada diatas budi pekerti yang agung “ ( QS Al – Qalam : 4 )
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui faktor penyebab yang menjadi problematika yang ada agar sedikit banyaknya menjadi kontribusi untuk kemajuan dunia pendidikan khususnya di Desa Ujunggebang dengan fokus penelitian pada remaja. Nabi Muhammad SAW bersabda :
مامن شئ اثقل فى ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق ( رواه الترمذى عن ابى الدرداء )
Artinya ; “ Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan ( amal ) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur ( HR.At-Tirmidzi dari Abu Dardai )
Maka jelaslah bahwasanya posisi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia akan mendapatkan kemulian disisi Allah, Rosul dan manusia lainya, apalagi sebagai seorang remaja yang dalam masa transisi, perubahan dan penuh goncangan batin. Karena tidak mulia seorang remaja kecuali dengan ilmu
